Selasa, 14 Juni 2011

1000 ANGAN MENGGAPAI HARAPAN
Matahari sudah tinggi, ketika Rega akan berangkat sekolah yang merupakan ritual wajib yang selalu berulang-ulang dilakukannnya dari hari senin hingga sabtu. Rega secepat mungkin menuruni anak tangga rumahnya. Untung saja, hal itu sudah menjadi kebiasaannya.  Sehingga akan mengurangi tingkat jatuhnya luka-luka dibadan Rega. 
      Dengan tas ransel dipunggungnya yang berisi buku dan sudah barang tentu si empunya tas, nggak tahu buku apa yang di bawanya dan jadwal pelajaran hari ini.  Rega bergegas mengambil sepatu hitam di rak sepatu, di bawah anak tangga.
      Jam menunjukkan 06.55 WIB, dan Rega sadar betul butuh waktu 15 menit untuk sampai di sekolahnya dengan kecepatan motor ala Valentino Rossi
      “Bun, Rega pergi dulu !” pekik Rega dari luar rumah sembari manasin motor.
      Bunda menghampiri Rega di depan rumah dan duduk santai di kursi teras. “Makanya tidur nggak usah malem-malem. Bola aja yang di tonton. Tuh akibatnya, sering bangun kesiangan. Jadi telat deh ke sekolah.” Ujar bunda tenang dan tersenyum.
      “Itukan karna bunda yang nggak mau bangunin Rega.” Sahut Rega yang sedang memasang sepatu.
      “Siapa bilang bunda nggak bangunin Rega ! Rega aja yang nggak denger. Bunda udah beratus-ratus kali mukulin wajan di depan kamar Rega. Telinga Rega aja tuw yang tebel.”
      “Bunda lebay nih !” Rega berdiri, menghampiri bunda dan mencium tangan bunda.
      “Rega pergi Bun, Assalamu’alaikum !”
      “Wa’alaikumsalam, Nggak sarapan dulu ?”
      Nggak sempat.” Rega segera menunggangi roda duanya. Oper gigi dan …… “Da, bun!” ia pun melesat.
      Bunda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, ketika melihat tingkah Rega, anak bungsunya.
*****
      Sampai di gerbang sekolah, Pintu pagar udah tergembok rapat. Ya….. bukan Rega namanya kalau nggak bisa melewati itu semua. Di tambah lagi si satpam sekolah sedang keliling mengawasi belakang sekolah, itu membuat leluasa melancarkan aksi Rega untuk memanjat pagar.
      Dan ….. Huupph. Rega berhasil mendarat dengan baik. Dengan langkah cepat, Rega menuju kelas XII IPA 1 yang menjadi kelasnya.
      Oh…., ya ampun. Rega memukulkan tangannya ke dahi. Hari ini pelajaran Bahasa Inggris. Tapi, bukan itu yang menjadi masalah. Bu Yanti guru yang terkenal dengan hati kerasnya dan nggak main-main dengan hukuman untuk murid-murid “Licin” begitulah julukan yang ia berikan pada muridnya yang selalu datang terlambat, itu adalah guru bahasa inggris di kelasnya hari ini .
      Haaaahh………. Rega menghela nafas panjang. Ingin rasanya ia mengurungkan niatnya masuk kelas. Namun, sayangnya  itu bukan sifatnya. Lari dari kesalahan bukanlah Rega.
      Rega melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Dan belum sempat ia menyapa ramah bu Yanti, Rega sudah di sambut dingin oleh bu Yanti.
      “Rega, saya rasa kamu sangat tahu apa yang harus kamu lakukan!” Ujar bu Yanti dingin dengan tatapan yang masih lurus kedepan dan pastinya suasana hening menyelimuti kelas.
      Dengan gontai, Rega berjalan keluar kelas, dan bersiap menggantikan pak Mudin untuk membersihkan WC. Ya……….., itulah hukuman yang sering diberikan bu Yanti pada murid-muridnya.
******
      Lagu Starlight milik Muse menggema di seisi ruangan kamar Rega. Itu pertanda SMS dari salah satu teman tongkrongannya. Segera Rega membuka SMS itu.
      Bro, main futsal sekarang!!!
      Tempat biasa.
      Candralah pengirim SMS itu, yang notabene teman Rega dari kecil. Dan emang Rega Favorit banget dengan yang namanya bola. Acara TV yang selalu ditunggu juga sepak bola.  Kamarnya juga di penuhi poster Red Devils, Club sepak bola kesayangannya. Istilahnya Bola is the One. Ckckckck…..
      Rega mengganti bajunya dengan kaos oblong berwarna biru yang di balutnya dengan jaket hitam, meraih tas ransel dan kemudian bergegas pergi.
      “Bun, Rega pergi. Mau maen futsal bareng temen.”  Ujarnya sambil lalu.
      “Udah shalat isya belum?” tanya bunda yang menghampiri Rega di depan rumah.
      Rega menarik gas motor dan melenggang pergi. “hemh… nanti bun, Assalamu’alaikum !”
      “Hei Rega, Shalat dulu !” teriak bunda. Ibunya hanya mengelus dada dan menjawab salam dengan suara rendah.
      Itulah gambaran besar yang dilakukan Rega 3 bulan sebelum UAN memanggilnya.
*****
      Detik berganti menit. Menit berganti jam. menit melewati hari-hari. Dan hari melewati minggu. Minggu bermetamorfosa menjadi bulan. Ujian Nasional pun siap ‘tuk di kerjakan.
      Untuk yang satu ini, Rega berjani tak akan bermain-main. Karena ini, sebagai pembuktiannya yang serius dalam mengikuti pendidikan pada kedua orang tuanya dan orang-orang disekelilingnya.
      Cemas. Khawatir. Menjadi temannya di menit-menit awal ujian. Namun kemudian beralih kepada tenang. Ketenangan dan keyakinan akan ia mampu dan bisa seperti yang ayah dan bunda katakan.
      Dan akhirnya, Ujian Nasional yang menjadi momok menakutkan itu berakhir. Tinggal beban kegelisahan yang bersembunyi di saraf-saraf otaknya yang menari-nari gembira.
      Rega selalu punya cara. Dan untuk mengatasi kegelisahannya itu, ia menghabiskan waktunya bersama teman-temannya. Bermain futsal tentu menjadi salah satu pilihannya. Namun malam ini, Rega di ajak teman-temannya menghabiskan malam di sebuah bangunan yang udah lama nggak di pakai. Genjrang-genjreng, ketawa-ketiwi, minum-minuman bersoda non alcohol, dan banyak lagi kesenangan-kesenangan yang mereka ciptakan.
      Dan tiba-tiba saja, bunyi serine mobil polisi mendekat ke arah mereka. Rega panik. Kejadian itu begitu singkat. Yang kemudian disadari Rega bahwa dirinya dan teman-temannya telah duduk di ruang penyidik kepolisian.
      Malam semakin larut, sudah tiga jam ia duduk disana bertemenkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya eneg dan seperti dipaksa mengakui kesalahan yang tak dibuatnya. Namun akhirnya pertanyaan-pertanyaan menyesakkan itu berakhir. Ada kekhawatiran lain yang kemudian tumbuh di hati Rega. Sebuah ketakutan, mungkin. Muncullah dua orang tua dengan ekspresi khawatir sekaligus kecewa di hadapan Rega. Yang ia kenali sebagai ayah dan bundanya.
      Tak ada kata terucap. Hanya gerakan tubuh yang menjadi isyarat percakapan mereka.
*****
      Dan sesammpainya di rumah.
      PLAAAKKK….!!!
      Sebuah tamparan kuat menyentak kulit pipi kiri Rega. Itu kali pertama Rega mendapatkan tamparan dari ayahnya. Sebuah tamparan penuh kekecewaan. Tak ada kata yang keluar dari mulut ayah. Tamparan itu cukup mewakili kekecewaannya. Ayah menatap Rega cukup lama. Bunda diam menahan tangis, hati bunda di antara sedih dan kecewa.
      Setelah merasa cukup, ayah meninggalkan ruang keluarga menuju kamar. Bunda mendekati Rega yang mematung, meraih si bungsu dalam dekapan hangat seorang bunda. Keduanya menangis haru.
      “Maafin Rega, Bun……”
      “Sudahlah, bunda emang kecewa. Cukup jadikan ini pelajaran dan jangan ulangi lagi.” kata bunda bijak.
      Kata maaf berulang kali keluar dari mulut Rega. Baru pertama kali dalam hidupnya ia merasa amat sangat bersalah. Sebuah pelajaran hidup baginya.
*****
      Malam-malam berikutnya, Rega habiskan dengan duduk dipinggiran kamarnya menanti pengumuman kelulusan. Banyak yang ia renungkan.
      Ia teringat ekspresi ayah malam itu. Begitu marahnya ayah padanya hingga esoknya ayah tak lagi mengajaknya bicara apalagi bercanda. Dan kemudian ia tahu hari ini ayahnya pergi dinas keluar kota. Belum sempat ia meminta maaf, itu menambah rasa bersalah yang menumpuk di hatinya.
      Rega coba tepiskan itu. Dan bayangannya tertuju kejadian-kejadian yang selama ini ia lakukan. Ia ingat hukuman-hukuman disekolah yang sering ia dapatkan dan dikarenakan kesalahannya sendiri, menghabiskan waktu yang sering tak menghasilkan apa-apa berbuah kesia-siaan, hingga kejadian malam itu peristiwa penangkapannya.
      Rega tahu , Rega salah untuk kesalahan-kesalahan itu. Tapi ingin sekali Rega menjelaskan tentang kejadian malam itu pada ayah. Bahwa Rega nggak sedikitpun menyentuh barang haram itu dan nggak terlibat transaksi narkoba di gedung itu. Shabu-shabu, kokain dan sejenisnya bahkan nggak terbesit di benaknya untuk mencicipi barang itu.
      Yaaa….. Ayah emang keras. Tapi darinya Rega di didik menjadi anak yang bertanggung jawab dan itu terbukti dengan hukuman demi hukuman yang di dapat disekolah dan tak pernah dilewatkannya. Ia jalani hukuman itu, karena itu adalah kesalahannya dan ia sadar ia salah.
      Tapi Rega belum mampu memperbaiki sifat buruknya itu.  Terulang dan terulang kembali padahal ayah dan bunda sering mengingatkannya dan baru menjadi penyeselannya sekarang.
******
      Hari ini detak jantung Rega berkali-kali lebih cepat dari detak jantung normal biasanya. Gimana nggak, buat remaja yang menjabat sebagi siswa, ritual pengumunan kelulusan menjadi misteri besar penuh kegelisahan. Yaaa….. walaupun untuk sebagian siswa itu biasa-biasa saja, tapi nggak buat Rega.
      Di tambah lagi ketidakhadiran ayah untuk mengambil amplop kelulusannya, kesedihannya bertambah. Padahal ia berharap, ayahnyalah yang hadir di moment penting ini.
      Apakah ayah  masih marah padanya? Atau memang pekerjaannya yang tidak memungkinkan ayah untuk hadir hari ini? Ataukah ayah benar-benar marah? Tapi kemudian Rega membuang pikiran pertama dan ketiga itu jauh-jauh, tak ingin semakin menambah kesedihannya.
      Rega ingin membuktikan pada ayah, bahwa ia bisa menjadi anak yang patut dibanggakan dan menjadi anak yang baik.
      Satu-persatu nama siswa di panggil.  Giliran nama REGA MAGANDI di sebut. Dan sontak Rega terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ayah berjalan menuju meja pengambilan amplop kelulusan. Hati Rega terenyuh dan ketika ayah telah mengambil amplop itu, ayah berjalan kearahnya dan mengajak Rega keluar dari aula sekolah.
      “Ini, bukalah.” Ujar ayah.
      Perlahan amplop itu dibuka Rega. Ia baca tulisan dalam amplop itu dengan khitmad dan sebuah kata LULUS tertulis di amplop itu. Rega menatap ayah keduanya sama-sama tersenyum.
      “Rega lulus, Yah” Ayah menggangguk. Legalah hati Rega begitu juga ayah.
*****
      Malam ini, malam kebahagian Rega. Ya, walaupun ada 1 hal yang masih mengganjal, tapi ia berjanji akan menyelesaikan. Ia beranjak dari tempat duduknya di taman belakang, namun kemudian ayah datang dan menyuruhnya duduk kembali.
      “Ada yang ingin Rega omongin sama Ayah” Ucap Rega memulai pembicaraan.
      “Ya… Ayah tahu.” jawab ayah sembari membenarkan kacamatanya. “kamu nggak perlu jelaskan tentang kejadian malam itu.”
      Nggak perlu ?” tanya Rega heran.
      “Ayah minta maaf karena udah menampar kamu dan mungkin nggak adil dimata kamu. Entah kenapa, malam itu tangan ayah begitu ringan dan ayah menyesal telah malakukan itu.”
      “Ayah nggak perlu minta maaf. Regalah yang salah, Yah.”
      Ayah kemudian berdiri memunggungi Rega.
      “Dari awal ayah sudah yakin  kamu nggak teribat kasus narkoba dan yakin kamu nggak bersalah. Yang ayah sesalkan karena kamu membiarkan kejahatan itu dan membiarkan teman-teman kamu terjerumus didalamnya Padahal ayah berharap dan yakin kamulah yang akan memberikan perubahan pada teman-temanmu itu. Namun, mungkin itu harapan yang berlebihan.”
      Ya… Ayah, bukan tipe orang yang akan membiarkan kejahatan menari-nari indah dimatanya dan itu jugalah yang diharapkan dari Rega.
      Rega tahu teman-temannya menggunakan barang haram itu tapi ia tak kuasa melarang teman-temannya untuk nggak menggunakan obat-obatan terlarang itu.
      “Kenapa Ayah begitu yakin dengan Rega ?” Rega beranjak dan berdiri sejajar di samping ayah.
      “Karena kamu anak Ayah. Tapi sudahlah kita tinggalkan kejadian malam itu , masih banyak yang harus dipikirkan.” Ayah memeluk Rega erat.
      Rega meneteskan air mata. Sudah lama Rega tak berada dalam pelukan Ayah lagi. Hubungan mereka mulai merenggang sejak Rega masuk SMA. Tapi, mulai malam ini, Rega berjanji  akan mengembalikan hubungan ayah dan Rega  seperti dulu. Dekat dan hangat.
*****
Setelah memulai perang pemikiran. Gejolak hati yang berkecamuk dan kebimbangan. Akhirnya Rega memutuskan satu keputusan yang berat, ia akan melanjutkan pendidikan di sebuah universitas dengan mengambil jurusan yang sama sekali nggak pernah mampir di otaknya.
Impiannya menjadi salah satu orang yang andil dalam dunia kepolisian harus mulai ia benamkan jauh-jauh. Dulu, setiap melihat barisan Polisi yang rapi, Rega selalu memposisikan dirinya menjadi salah satu yang baris berdiri rapi diantara polisi-polisi berbadan tegap dengan wajah tegas. Namun, ada alasan lain yang membuatnya mengurungkan niat menjadi polisi. Sangat berat memang melepaskan impiannya yang ia citakan dan impikan sejak kecil.
Rega mulai harus belajar menerima kenyataan.
Tepat pukul 07.00 WIB Rega sampai di pintu gerbang kampus. Ia berhentikan motornya dan merenung di atas motor. “Benarkah aku disini?”
Semenit kemudian ia parkirkan motor dan menuju kelas barunya dengan penghuni yang tak ia kenal sebelumnya.
*****
Waktupun berjalan. Banyak masa terlewati bersama ceritanya masing-masing. Harapan demi harapan terus terukir. Angan demi angan menghiasi saraf kendali otaknya.
      Rega mulai menerima dengan kenyataan di hadapainya. Ia ingin membuat kedua orang tuanya bangga dan tak ingin mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang membuatnya menyesal.  Dia harus mulai dengan keras dan disiplin pada dirinya sendiri untuk hal-hal yang tak membuatnya baik. Dan Rega harus belajar untuk dewasa.
      Bersama teman-temannya, yang kemudian Rega anggap sebagai sahabatnya, Riki, Lesia, Han’s, Karin dan juga Rianty itulah, Rega siap mengukir sejarah baru bersama mereka untuk bisa menjadi orang-orang yang berhati besar, tulus dan berbakti untuk dunia pendidikan sebagai seorang guru yang patut di gugu dan di tiru.
      Ya…. Kehidupan baru dalam episode berlanjut telah mulai, nggak ada yang tahu  bagaimana akhirnya nanti. Karena hanya Allah lah yang tahu. Jalani dan ikuti saja jalan yang baik.  Kebahagiaan dan pengabdian telah menanti.

SELESAI.

1 komentar: